Rumah Terbakar Kobarkan Semangat Bangun Maluku

- Tentang Stanley Ferdinandus dan Peduli Pendidikan Anak Maluku

Stanley Ferdinandus adalah seorang pengajar di beberapa lembaga pendidikan di kota Ambon. Setelah menyelesaikan studi pasca-sarjananya di Universitas Kristen Satya Wacana dan kembali ke kota Ambon, dia mulai beraktivitas di bidang pendidikan, khususnya pendidikan bagi anak-anak di Maluku bersama-sama dengan beberapa orang kawan dan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang lintas agama.

Banyak aktivitas terkait pendidikan bagi anak-anak yang sudah dilakukannya bersama-sama dengan komunitas Peduli Pendidikan Anak Maluku di beberapa tempat di Pulau Ambon, antara lain di kelompok belajar Kaki Gunung Sirimau di Negeri Soya dan kelompok belajar Fajar Hidup di Wailela. Anak-anak yang terbantu dengan apa yang dia lakukan bersama kawan-kawannya itu bukan anak-anak yang berasal dari latar belakang agama tertentu, melainkan dari berbagai latar belakang agama maupun perbedaan-perbedaan lainnya.

Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Minggu 11 September 2011, dia harus meninggalkan rumahnya dan tidak akan pernah melihatnya seperti sedia kala karena tidak lama sesudah itu rumahnya dibakar. Sungguh, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang menginginkan hadiah ulang tahun seperti itu.

Saya mengetahui bahwa rumahnya terbakar habis pada Senin dini hari, 12 September 2011, namun baru melihatnya secara langsung saat tiba di Halong-Mardika pada Selasa pagi, 13 September 2011. Tidak ada yang tersisa selain tembok hitam terpanggang api yang melahap habis rumahnya.

Saya tahu Stanley dan kawan-kawan sedang merayakan hari ulang tahunnya di Pantai Natsepa saat terjadi kericuhan di Ambon dan kira-kira pukul 7 malam dia baru tiba di rumahnya yang bertempat di Halong-Mardika. Sebelum kericuhan di Halong-Mardika berujung pembakaran rumahnya dan rumah-rumah penduduk yang lain pada tengah malam sampai subuh nanti, dia berinisiatif untuk melapor ke Kepolisian Daerah Maluku di Batu Meja untuk meminta aparat kepolisian mengamankan daerah sekitar Halong-Mardika karena kondisi sekitar memang mulai menegangkan.

Kurang lebih tiga kali dia bolak-balik Halong-Mardika dan Batu Meja (Mapolda Maluku), namun sayang sekali tidak mendapat tanggapan sesuai dengan harapannya. Beberapa orang polisi baru bergegas ke sana saat pembakaran sudah terjadi dan tidak bisa tertangani lagi.

Sabtu siang kemarin kami berjumpa lagi. Di sela-sela percakapan bersama, Stanley mengatakan bahwa dia baru saja berjumpa dengan dua orang sahabatnya di sekitar lokasi Gong Perdamaian Dunia. Seakan tidak pernah mengalami kejadian buruk akibat kericuhan kemarin, Stanley tetap bersemangat untuk terus melakukan berbagai hal dengan kawan-kawan yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda, baik berbeda agama maupun etnis.

Bagaimana kemudian Stanley yang adalah korban kericuhan yang terjadi di kota Ambon minggu kemarin memaknai peristiwa yang telah menimpa diri dan keluarganya serta bagaimana dia memandang orang yang berbeda dengannya bahkan terus membangun relasi dan bekerja bersama-sama? Pertanyaan ini membawa saya pada penelusuran nilai yang tercermin dalam disampaikan Stanley dalam percakapan lepas kemarin malam.

Ketika kami meminta dia untuk menyebutkan secara sederhana apa yang membuat dia bisa deal  dengan kehilangan yang dialaminya, Stanley dengan lugas menjawab: “Sebelum kericuhan itu melebar hingga rumah terbakar habis, beta sudah membayangkannya”. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa “Beta bersyukur kerusuhan pertama yang juga membuat beta punya rumah terbakar itu membawa beta untuk menemukan nilai baru. Beta seng binci, tapi beta tangisi karena ini masalah bersama. Katong samua adalah korban!” [Saya bersyukur kerusuhan pertama yang juga membuat rumah saya terbakar itu membawa saya untuk menemukan nilai baru. Saya tidak benci, tapi saya tangisi karena ini masalah bersama. Kita semua adalah korban!].

Dari apa yang disampaikannya, saya menemukan harapan bahwa ternyata ada banyak orang yang sudah belajar dari pengalaman kelam yang pernah terjadi di Maluku dan menemukan nilai-nilai baru yang positif. Nilai-nilai itu tentu menjadi energi yang berguna bagi upaya membangun kehidupan bersama yang harmonis dalam realita masyarakat Maluku bahkan Indonesia yang sarat perbedaan dan rentan konflik atas nama perbedaan.

Dengan tidak menafikkan kenyataan yang paradoks di samping realita di atas, saya juga memandang bahwa kericuhan yang menelan korban jiwa dan mengakibatkan kehilangan rumah dan harta benda akibat pembakaran yang dilakukan secara massal menunjukkan bahwa ternyata ada juga orang-orang yang belum belajar dari pengalaman kelam yang pernah terjadi yang buntutnya adalah penderitaan dan stagnasi pembangunan di berbagai bidang kehidupan. Inilah yang disebut Stanley sebagai “masalah bersama”.

Tentang relasi dan upaya bersama untuk mendukung pengembangan pendidikan di kota Ambon yang dia lakukan bersama-sama dengan kawan-kawan yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, Stanley menyadari sungguh bahwa dia tidak akan bisa melakukannya sendiri. Hal ini kentara dalam pandangannya:

Saya membutuhkan basudara [saudara-saudara] yang lain untuk bersama-sama mencari jalan keluar. Memang beta adalah korban langsung dari kekacauan ini, namun jika kita memahaminya secara lebih luas maka kita semua adalah korban. Ini bukan tentang beta atau beta pung rumah yang tabakar saja [rumah saya yang terbakar saja], melainkan tentang Ambon, tentang hidup katong samua di Maluku [tentang hidup kita semua di Maluku]. Setelah beta pung rumah tabakar, kekuatan atau semangat untuk merangkul lebih kuat lai [setelah rumah saya terbakar, kekuatan atau semangat untuk merangkul lebih kuat lagi].”

Apa lagi yang bisa kita lakukan terhadap semua hari-hari kelam yang pernah mendatangi hidup kita di Maluku? Menyesalinya? Mengutukinya? Mensyukurinya? Tentu ada banyak, tapi satu hal yang pasti, kita tidak bisa lagi mengubahnya. Kita hanya bisa belajar darinya. Dengan belajar dari Stanley, saya ingin mengajak masyarakat Maluku untuk belajar dari pengalaman-pengalaman kelam di tahun-tahun yang lalu dan menemukan nilai baru yang menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik ke depan.

Ada banyak peran yang bisa kita ambil untuk bersama-sama memikul beban persoalan yang melanda Maluku. Stanley sudah memilih pendidikan sebagai cara untuk memikul beban bersama dan media untuk membina relasi lintas perbedaan, sekarang Anda juga bisa mengambil peran untuk membangun Maluku sesuai kemampuan yang Anda miliki agar Maluku tidak lagi terpuruk dalam persoalan lama dan terus maju. Bukankah keledai yang adalah binatang juga tidak akan terantuk dua kali pada batu yang sama?

Kita selalu mengeluhkan kualitas sekolah yang masih belum baik dan biaya sekolah anak-anak kita yang mahal nan menanjak, namun kita juga sering sekali melupakan apa yang dikatakan Heinrich Heine, “Experience is a good school, but the fees are high.” Hari-hari kelam yang kita alami di Maluku merupakan sekolah terbaik yang bayarannya adalah kehilangan nyawa, terbakarnya rumah, musnahnya harta benda, hancurnya persahabatan, lunturnya saling percaya, hilangnya perdamaian, dan sebagainya. Mahal sekali bukan? Sayang sekali jika kita semua keras hati untuk belajar darinya. Demikian!

Tag:, ,

Tentang pinggirsentris

The #SpecialBeginner - Sesaat menggelitik lalu mengguncang.

4 Responses to “Rumah Terbakar Kobarkan Semangat Bangun Maluku”

  1. eby says :

    beta serap banya semangat saat perjumpaan di gong perdamaian lalu. terbakarnya rumah eten malah membakar dia pung semangat untuk buat Maluku lebih cerdas. Dia berbagi mimpi, dan saya dengan sangat yakin ingin menjadi bagian dari pewujudan mimpi itu. RumahCerdasMaluku atau Knowledge Centre atau apalah namanya. Pada akhirnya pendidikan akan memerdekakan jiwa meski di bawah “jajahan” bangsa sendiri

  2. anugrha13 says :

    tetap semangat bang…semoga kejadian kemarin akan membawa keabikan di kemudian hari :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.