Pelajaran tentang Saling Percaya
- Tentang Perjumpaan dengan Abang Fuad Azuz -
Cerita ini dimulai dari satu komentar atas status akun Facebook saya. Di sana tertulis begini:“Bung Weslly eee… Tolong koordinasi deng Fuad Azuz via fb jua, supaya beta pung anana segera menikmati apa yang telah menjadi hak mereka.. Salam hangat..” [Bung Weslly, tolong koordinasi dengan Fuad Azuz via Facebook saja, supaya anak-anak segera menikmati apa yang telah menjadi hak mereka. Salam hangat.] Begitu komentar Caca Ida pada salah satu status Facebook saya malam itu, Rabu 14 September 2011. Saya baru bisa membaca komentar tersebut keesokan harinya. Menjawab komentar itu saya menulis begini, “Pagi bae, ca Ida.. bagimana kabar? iya, beta cari abang Fuad di fb lalu beta hubungi jua. Dangke banya banya ca..” [Pagi yang baik, Ca Ida.. Bagaimana kabar? Iya, beta cari abang Fuad di Facebok lalu beta hubungi]. Begitu percakapan singkat kami.
Beberapa bulan sebelumnya, oleh Bung Rudi Fofid, saya dikenalkan dengan Caca Ida Azuz. Perempuan yang sangat sayang kepada anak-anak ini berniat untuk memberikan buku-buku bacaan kepada anak-anak Gunung Mimpi, komunitas belajar yang setiap minggu beraktivitas bersama-sama di rumah saya, di Amahusu. Untuk kepentingan itulah, Caca Ida meminta saya menghubungi adiknya, Abang Fuad Azuz.
Setelah menemukan Abang Fuad di Facebook kami pun berkomunikasi dan sepakat untuk bertemu. Buku-buku yang hendak diberikan kepada anak-anak Gunung Mimpi itu dikirim oleh Caca Ida dari Yogyakarta dan sudah dititipkan kepada Abang Fuad, adiknya yang tinggal di Ambon.
Sekitar jam 11 siang itu, saya menerima pesan dari Abang Fuad katanya beliau nanti agak terlambat karena sedang menunggu anak-anaknya pulang dari sekolah dan mau mengajak mereka untuk menjenguk saudara-saudara yang sedang mengungsi karena rumah-rumah mereka di Waringin dibakar massa. Saya lantas melanjutkan perjalanan ke Baeleo Oikumene untuk sekadar menunggu saat untuk berjumpa dengannya.
Baru sekitar jam setengah 3 sore Abang Fuad kembali menghubungi saya. Beliau langsung menelepon dan setelah tahu keberadaan saya, beliau langsung mengatakan bahwa beliau akan datang menemui saya di Gedung Gereja Maranatha. Jujur saja, saya agak kaget sebab saya dan beliau belum pernah sekali pun berjumpa dan di tengah situasi kota masih belum normal ini beliau tanpa sedikit pun ragu mau datang mengantarkan buku-buku itu kepada saya. Saya yakin ini adalah sesuatu yang mahal dan langka. Bukankah pasca ricuh hari Minggu sampai Senin minggu lalu itu banyak orang mengalami krisis kepercayaan? Dan hari ini, sebagai seorang yang beragama Islam, Abang Fuad lantas mempercayai saya, seorang Kristen, yang belum pernah ia jumpai. Ini peristiwa yang luar biasa sekaligus bukti bahwa kita sebenarnya bisa mengatasi krisis kepercayaan yang adalah biang kerok konflik atas nama perbedaan. Kita bisa dengan gampang dipecah-belah dan diadu-domba jika kita sudah kehilangan rasa saling percaya.
Selanjutnya, kami pun berjumpa di halaman gedung Bealeo Oikumene. Abang Fuad menceritakan beberapa peristiwa yang berkesan bagi saya. Mulai dari bagaimana ia menempuh perjalanan panjang dari luar kota dan melewati daerah-daerah pemukiman warga yang beragama Kristen, keadaan saudara-saudaranya yang sementara mengungsi, bahkan sekilas cerita tentang belajar mengaji di Mesjid di Waringin bersama kawan-kawannya semasa kecil. Dari situ saya sadar bahwa rumah-rumah, Masjid, dan semua tempat di sana bukan sekadar materi atau benda, melainkan lebih dari itu, di sana ada memori indah semasa kecil, kenangan tentang bahagia dan indahnya hidup bersama keluarga, saudara, dan sahabat, bahkan mimpi-mimpi masa depan, dan doa yang selalu dilafaskan dari setiap bilik di rumah-rumah yang sekarang sudah terbakar.
Saya bisa memahami apa yang dirasakan saudara-saudari yang terbakar rumahnya dan yang sekarang sedang berada di tempat pengungsian, sebab sejak Desember 1999 hingga sekarang ini saya tidak pernah lagi melihat rumah saya dan itu menyedihkan sekali. Sungguh, orang-orang yang dengan gampang membakar rumah-rumah itu telah kehilangan kemanusiaannya.
Setelah duduk dan berbicara banyak tentang Ambon, kami pun berpisah. Sambil memegang kantong plastik berisi empat buah novel karya Andrea Hirata dan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pandangan mata saya mengantar kepergian Abang Fuad dengan sepeda motornya. Berjumpa dengannya adalah pelajaran tentang saling percaya! Saya mensyukurinya.
Hormat dan terima kasih saya untuk Caca Ida dan Abang Fuad. Saya semakin yakin bahwa Ambon, Maluku, bahkan Indonesia akan lebih baik ke depan. Sekian!






Makasih untuk catatan tentang pertemuan bt dengan Bung Weslly. Ini juga jadi catatan par beta,